Tak Terima Putusan PN, Penggugat Laporkan Hakim ke Bawas MA dan KY

Minggu, 13-05-2018 - 20:25 WIB Bukti foto tanda terima laporan yang dipegang Ellyk Sushana / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES Bukti foto tanda terima laporan yang dipegang Ellyk Sushana / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES – Terus berjuang mencari keadilan sendirian, itulah yang dilakukan Ellyk Sushana (41) warga Jalan Pandean, Desa/Kecamatan Ngunut. Ellyk nekat melaporkan hakim dan panitera Pengadilan Negeri (PN) Tulungagung ke Badan Pengawasan Mahkamah Agung(MA) dan ke Komisi Yudisial (KY).
"Jika tidak bisa diadili di PN kenapa mesti diperiksa pokok perkaranya, saat putusan ditunda ketika itu untuk memberi kesempatan," kata Ellyk memberikan isyarat adanya lobby khusus yang dicium dari perkaranya. 

Secara resmi laporan itu dimasukkan pada Jumat (11/5). Pelaporan ini bermula dari putusan laporan perkara perdata, pada 5 April silam. Perkara itu menyangkut hak kepemilikan tanah kakek Ellyk yang belum pernah dibagi waris, namun sudah dijualbelikan. Ketika itu majelis hakim  memutus tidak bisa mengadili perkara ini, karena bukan kewenangan PN Tulungagung.

Menurut majelis hakim,  perkara ini menjadi kewenangan absolut Pengadilan Agama (PA). Selaku penggugat, Ellyk mengaku kecewa. Sebab seharusnya PN Tulungagung sudah tahu perkara ini sejak awal, karena hakim sudah memeriksa dokumen, bahkan sidang di obyek perkara. 

“KY dan Badan Pengawas MA bilang, nantinya akan menjadi bahan kajian dan pasti hakim-hakim tersebut akan dipanggil. Terutama ke KY,” terang Ellyk, Minggu (13/5).

Setelah menerima bukti terima laporan, baik KY dan Badan Pengawas MA sama-sama kaget, karena gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dilempar ke Pengadilan Agama. 
"Kita juga menyampaikan bukti-bukti pelanggaran perilaku hakim dan panitera. Ada yang kita duga bermain," kata Ellyk tanpa menyebutkan nama yang dimaksud 

Bukan hanya KY dan Badan Pengawas MA, Ellyk juga akan membuat laporan ke KPK. Laporan ke lembaga anti rasuah ini juga terkait dugaan kecurangan dalam persidangan. 

“Saya memang bukan yang expert di bidang hukum. Saya hanya rakyat biasa yang mencari keadilan,” ucapnya. 

Belum ada konfirmasi dari PN Tulungagung terkait laporan dari Ellyk ini. Humas PN Tulungagung, Yuri Adriansyah tidak bisa dihubungi lewat sambungan telepon. 

Gugatan perdata yang diayangkan Ellyk bermula dari konflik keluarga.  Tanah milik Kaboel Kasidjo, kakek Ellyk seluas 2.650 meter persegi dijual secara sepihak oleh kerabat ibunya.  Padahal tanah ini belum pernah dibagi waris. 

Total aset tanah ini bernilai di atas Rp 10 miliar. Tanah yang diklaim Ellyk termasuk area SDN 2 Pulosari, Kecamatan Ngunut.  Selain ranah perdata, perkara ini melebar ke ranah pidana.

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close