Marmer Tulungagung Tak Bergaung, Pasar Dan Pengusaha Garap Granit

Senin, 14-05-2018 - 19:19 WIB Sukarman, Pengusaha Marmer Asal Gedangan Campurdarat / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES Sukarman, Pengusaha Marmer Asal Gedangan Campurdarat / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES – Batu marmer yang telah menjadi icon Tulungagung kini terancam tergeser oleh batu granit. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu penguasaha batu Gramer Perdana Desa Gedangan, Kecamatan Campurdrat, Sukarman.

"Disini, marmer sudah kalah kelas jika dibanding dengan batu granit," katanya

Menurutnya, batu granit  ini lebih banyak diburu kalangan menengah ke atas sebab kini semakin sulit mendapatkan marmer dengan pola yang seragam. "Marmer pasti ada seratnya. Mendapatkan serat yang sama dalam jumlah besar itu yang susah," ujarnya

Dulu hanya ada dua jenis marmer untuk lantai, yaitu marmer putih dari Besole dan marmer kuning dari Kecamatan Rejotangan.

"Sekitar tahun 1996 mulai ditemukan andesit dari Ponorogo dan Trenggalek," jelasnya

Saat itu menurut Sukarman, pemanfaatannya sebatas untuk andesit bakar. Motif berbintik-bintik dengan tekstur kasar artistik ini banyak dipakai untuk tiang penyangga maupun tembok pagar.

Pemanfaatan bebatuan selain marmer  semakin meningkat  tahun 2005. Tahun 2012 mulai ditemukan granit dan kian menggeser marmer.

"Andesit ini masih bisa tergores. Kalau granit tidak bisa digores dan sangat mengkilap, meles dan wantek" jelasnya

Di Tulungagung diketemukan granit hijau, sedangkan di Puwokerto ditemukan granit abu-abu bertotol yang dikenal dengan granit impala dan dari Sumedang ada granit hitam.

"Ketiga jenis granit inilah yang sekarang menguasai pasaran, terutama ini yang dari Sumedang ini belum terkalahkan," jelas Karman

Sejak ada batu granit, produksi lantai marmer pelan-pelan suram, bahkan kini Sukarman hanya melayani pesanan.

"Kalau ada pesanan marmer, baru kami produksi. Kalau tidak ada pesanan, kami tidak stok produk," tambahnya.

Kini marmer lebih banyak dimanfaatkan mozaic, wall cladding dan tangga agar tidak  licin. Pasar granit produk Tulungagung ini banyak dikirim ke Jakarta, Bali dan Surabaya.

"Rata-rata peminat terbesar untuk lantai vila, lantai hotel dan bangunan besar karena ukurannya juga besar," terangnya

Harga granit impala berkisar Rp 350.000 per meter persegi. Sedangkan granit hijau Rp 300.000 per meter persegi. Paling mahal granit hitam, Rp 425.000 per meter persegi.

Sedangkan biaya pasang untuk lokal Tulungagung Rp  150.000 per meter persegi. Untuk kota lain di Jawa Timur Rp 175.000 per meter persegi. Sedangkan untuk luar Jawa Timur sekitarRp 200.000 per meter persegi.

"Itu pun semen dan pasirnya ditanggung sama yang punya proyek. Kami hanya tinggal mengerjakannya," pungkasnya.

Pewarta : Anang Basso
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close