Jenazah 13 Bomber Tak Diakui Keluarga dan Ditolak Pemakamannya

Kamis, 17-05-2018 - 10:09 WIB Bom yang meledak di halaman Polrestabes Surabaya. Bom yang meledak di halaman Polrestabes Surabaya.

TULUNGAGUNGTIMES, SURABAYASebanyak 13 jenazah pelaku bom bunuh diri Surabaya dan Sidoarjo masih berada RS Bhayangkara Polda Jatim saat ini. Pihak keluarga mereka tak mau mengakui dan datang untuk mengambil jenazah para bomber dan terduga teroris tersebut.

Hingga Rabu (16/5), tak ada seorang pun yang mau mengakui dan datang ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi jenazah dan pencocokan data primer dan sekunder. "Ini untuk kali ketiga. Mohon supaya keluarga Dita, Anton dan Tri bisa hadir ke RS Bhayangkara," ujar Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera.

Padahal, jelas Barung, kedokteran forensik dan DVI RS Bhayangkara Polda Jatim sangat butuh data dari keluarga terduga teroris untuk mencocokkan dengan jenazah. "Ini terakhir, permohonan, nanti kami akan mengumumkan ke akun-akun resmi polres jajaran," ucapnya.

Jika tidak, pihaknya akan memutuskan langkah, yakni melakukan pemakaman dan membicarakannya dengan Pemprov Jatim dan tokoh agama. "Tujuh hari ke depanlah, bisa koordinasi dengan pemprov dan tokoh agama," imbuhnya.

Sebenarnya keluarga Tri Murtiono sudah datang ke RS Bhayangkara. Tapi, mereka datang untuk menjenguk A (8), anak dari Tri yang selamat dari ledakan bom dan dirawat di rumah sakit yang berada di Jalan A. Yani Surabaya tersebut. "Nenek dan paman A datang ke Rumah Sakit Bhayangkara, tapi tak mau mengakui Tri," beber Barung.

Selain itu, warga Surabaya secara kompak menolak menerima pemakaman jenazah para bomber. Itu ditunjukkan dengan banner yang disebar di setiap sudut Kota Surabaya.

Dalam hal ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengakui kemarahan warga tersebut. "Itu wajar. Tapi nanti tetap akan kita sediakan lahan pemakaman milik pemkot," imbuhnya.

Sementara itu, sebelumnya Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengunjungi tiga anak terduga pelaku yang selamat dari ledakan bom di lantai lima blok B No 2 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Ledakan tersebut merupakan salah satu dari rentetan ledakan bom di Surabaya. Kamar ditinggali oleh enam anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak.

Akibat ledakan tersebut, Anton Ferdiantono (ayah/47 tahun), Puspita Sari (ibu/47 tahun), dan satu anak tertua atas nama HL (17) dari terduga pelaku tewas. Sedangkan tiga adiknya, AR (15), FPH (11), dan HD (11), lolos dari ledakan dan mengalami luka.

FPH (11) mengalami luka di bagian paha sebelah kiri dan HD (11) mengalami luka di hidung. Pada saat kejadian, anak kedua, AR, dibantu oleh warga berusaha menyelamatkan kedua adiknya dari ledakan untuk dibawa ke RS Siti Khodijah.

Saat ini keduanya sudah dirujuk ke RS Bhayangkara Polda Jawa Timur. Menurut pengakuan AR, keseharian ayahnya, Anton Ferdiantono, menjadi penjual jam tangan online dan sering mendengarkan ceramah melalui internet.

Dia juga mengatakan sering mendapat ajakan sang ayah untuk berjihad. Namun ajakan ini selalu ditolaknya karena tidak sesuai pemikirannya dan bertolak belakang dengan ajaran Islam.

AR juga membenarkan kepada Tito Karnavian bahwa bom yang meledak tersebut milik ayahnya. Bom yang dirakit sendiri oleh sang ayah tersebut merupakan hasil belajar melalui internet dan YouTube.

Pada awalnya, AR tak mengetahui bahwa yang dirakit oleh sang ayah itu adalah sebuah bom yang menyebabkan terjadinya ledakan di kamar yang ditinggalinya. (*)

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Surabaya TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close