Gara-Gara Hal Ini, Vonis Tukang Pijat Buta yang Hamili Adik Iparnya Lebih Tinggi dari Tuntutan Jaksa

Kamis, 07-02-2019 - 16:59 WIB Jarni saat digelandang di mapolres beberapa waktu lalu. (foto:  Anang Basori/Jatim times) Jarni saat digelandang di mapolres beberapa waktu lalu. (foto: Anang Basori/Jatim times)

TULUNGAGUNGTIMES – Vonis terhadap Jarni (49), warga Kecamatan Kalidawir, tukang pijat tunanetra yang menghamili adik iparnya, lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum. 

Jaksa penuntut umum menuntut Jarni dengan hukuman penjara selama 8 tahun. Namun  majelis hakim yang diketuai  Florence Katarina menjatuhkan pidana 15 tahun penjara. 

"Tuntutan 8 tahun vonis 15 tahun penjara serta denda 1 miliar rupiah subsider 3 bulan kurungan," ujar Humas Pengadilan Negeri Tulungagung,  Yuri Adriansyah,  Rabu (6/2/19) malam. 

Majelis hakim yang beranggotakan Yuri Adriansyah dan Sri Peni Yuda Wati melihat ada hal-hal yang memberatkan terdakwa.  "Akibat perbuatannya, terdakwa tidak dapat mengembalikan kehidupan korban. Terdakwa memengaruhi tumbuh kembang psikis korban serta merusak harkat martabat derajat korban," terangnya lebih lanjut. 

Selain itu, majelis hakim juga berpendapat, perbuatan terdakwa mengakibatkan keluguan korban juga hilang lantaran korban hamil. Terdakwa juga mempermainkan serta memanfaatkan korban yang belum matang berpikir untuk melakukan perbuatan tersebut dan menimbulkan trauma psikis pada korban.

Namun majelis hakim juga melihat hal-hal yang meringankan terdakwa.  Salah satunya ialah kondisi fisik terdakwa yang mengalami kebutaan. 
"Hal yg meringankan keadaan terdakwa mengalami kebutaan," ucapnya. 

Seperti diketahui sebelumnya, Jarni digelandang ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung pada 17/9/2018 lalu, karena diduga melakukan persetubuhan pada anak di bawah umur. Korbannya adalah Bunga, yang tak lain adik  istri Jarni. 

Jarni menyatakan tidak pernah memaksa Bunga untuk melayani nafsu bejatnya.  "Dia adik ipar, adik istri saya. Tidak pernah saya pijat. Saya ajak begituan dia mau. Lalu saya ketuk pintu dan dibuka. Di dalam kamar ada keponakan juga," kata Jarni.

Dukun yang mengaku sudah menikah dua kali dan punya dua anak itu mengalami kebutaan sejak tahun 1995 karena sakit. "Ini sekarang ndak lihat sama sekali," katanya sambil menunjukkan jika dirinya telah buta total.

Saat Jarni digelandang oleh UUPA Satreskrim Tulungagung, korban Bunga telah hamil 7 bulan. Jarni harus bertanggung jawab atas perbuatannya.  "Kulo khilaf saat itu istri ndak mau dikumpuli," ungkapnya dalam bahasa Jawa campuran.

Bahkan selain Bunga mau  disetubuhi, Jarni mengaku menawarkan agar Bunga dinikahi.
"Dia mau saya kumpuli, bahkan saya nikahi juga mau," papar Jarni.

Kelakuan bejat Jarni bukan hanya dilakukan satu kali. Menurut pengakuan yang disampaikan, sudah tiga kali Jarni melakukan perbuatan tak semestinya itu ke Bunga. "Tiga kali saya tumpaki (setubuhi-red) dua kali di rumahnya dan satu kali di rumah saya," kata Jarni.

 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close