Melihat dari Dekat Tradisi Salat Tarawih Super Cepat di Ponpes Mantenan Blitar, 23 Rakaat Selesai dalam 10 Menit

Minggu, 12-05-2019 - 14:53 WIB Sholat tarawih di Ponpes Mantenan diikuti jamaah dari Blitar dan luar daerah Sholat tarawih di Ponpes Mantenan diikuti jamaah dari Blitar dan luar daerah

TULUNGAGUNGTIMES, BLITAR – Bulan Ramadan merupakan bulan istimewa jika dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Betapa tidak, umat Islam bisa mengeruk pahala dan ampunan di bulan suci tersebut. 

Tak aneh banyak orang yang berlomba-lomba melakukan ibadah dan amal baik di bulan penuh rahmat tersebut.

Salah satu ibadah yang dilakukan pada Ramadan yakni salat tarawih. 

Umat Islam berbondong-bondong pergi ke masjid pada malam hari untuk melakukan ibadah satu tersebut. 

Mereka tak mau melewatkan kesempatan karena Ramadan hanya tiba setahun sekali.

Sama seperti di daerah lain, masyarakat di Kabupaten Blitar pun antusias pergi ke masjid saat Ramadan tiba. 

Namun, jika berkunjung ke Pondok Pesantren Mambaul Hikam di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, masyarakat akan dibuat kaget.

Soalnya, salat tarawih di pesantren tersebut dilakukan selama 10 menit saja. 

Padahal, total sebanyak 23 rakaat sudah ditambah oleh salat witir.

Menurut pengurus pondok, Salat tarawih cepat ini sudah berlangsung lebih dari satu abad. 

KH Abdul Ghofur, Pendiri Ponpes Mantenan dan penggagas Shalat Tarawih super cepat.(Foto : Ist)

Meski diyakini sebagai salat tarawih tercepat di dunia, tidak ada protes dari ulama dan warga setempat. 

Justru semua kalangan sangat antusias dan salat tarawih di Ponpes ini yang selalu lebih ramai dari tempat-tempat yang lain.

Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam Dliya'udin Azzamzammi mengatakan salat tarawih cepat di pondoknya dimulai sejak kakeknya KH Abdul Ghofur mendirikan ponpes yang dikenal dengan nama Pondok Mantenan.

“Salat tarawih cepat ini sejak zaman kakek saya, sudah sejak 160 tahun yang lalu, kami hanya melanjutkan tradisi saja, dan sesuai syariat ini tidak melanggar karena gerakan dan bacaannya sama,” kata Kiai yang akrab disapa Gus Diya.

Dia menceritakan sejarah dilakukanya salat tarawih kilat ini alasanya adalah agar masyarakat mau menjalankan salat tarawih. 

Menurutnya, masyarakat jaman dahulu selalu bekerja dari pagi hingga sore. 

Karena lelah bekerja mereka kemudian meninggalkan salat tarawih di bulan Ramadan.

"Alasanya supaya  masyarakat mau menjalankan sholat tarawih. Zaman dulu kan masyarakat bekerja mulai pagi hingga sore. Kalau terawih terlalu lama akhirnya banyak yang tidak tarawih karena capek. Akhirnya salat tarawih dicepatkan  agar masyarakat tetap mau beribadah menjakankan salat tarawih di bulan ramadan," jelasnya.

Dliya’udin menambahkan, salat cepat di pondoknya dilakukan hanya untuk salat tarawih dan witir saja. Untuk salat lima waktu, salatnya seperti pada umumnya pondok-pondok lainnya.

Para jamaah yang ikut salat tarawih juga senang karena sangat efisien waktu. 

Setiap hari selama Ramadan, jamaah salat tarawih selalu ramai dan mencapai ratusan orang.

Tidak hanya jamaah dari sekitar Ponpes, namun dari desa-desa di sekitar pondok juga memilih ikut melaksanakan tarawih di Masjid Ponpes Mambaul Hikam. 

Bahkan, banyak jamaah dari daerah lain seperti Kediri dan Tulungagung tarawih di tempat ini.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close