Penjual Ketupat Keluhkan Pendapatan Turun, Ini Sebabnya

Senin, 10-06-2019 - 17:42 WIB Penjual ketupat di pasar Ngemplak (foto : Joko Pramono/Jatim Times) Penjual ketupat di pasar Ngemplak (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

TULUNGAGUNGTIMES – Penjual ketupat di Pasar Ngemplak, Tulungagung keluhkan turunya pendapatan mereka pada lebaran ketupat tahun ini, Senin (10/6/19). Jika pada tahun-tahun sebelumnya penjual ketupat ini bisa menjual 600-700 ketupat pernah harinya, kini hanya 300-400 ketupat saja.

Menurunya omset penjualan ketupat itu dikarenakan adanya ketupat massal yang mulai marak digelar oleh warga.

"Kalau ada ketupat masal,  yang digunakan bukan ketupat, tetapi lontong atau plastik (sebagai bungkus lontong)," ujar Sugito, penjual ketupat asal Pule, Trenggalek, Senin (10/6/29).

Perikat berisi 10 ketupat biasa dijual dengan harga Rp. 7-8 ribu. Sedang janur berisi 10 dijual dengan harga 5-6 ribu rupiah.

Sugito mendapat janur dari perkebunan di sekitar rumahnya di Trenggalek. Satu barang janur bisa dijadikan sekitar 100 ketupat. Sementara itu Arista, salah satu penjual ketupat asal Jombang, mendapatkan janur dari perkebunan kelapa di Blitar.

Satu batangnya dia beli dengan harga 35 ribu rupiah. Sama dengan Sugito, perharinya dia hanya bisa menjual sekitar 300-400 ketupat. "Sekitar 300-400 ketupat," ujar Arista.

Penjual ketupat ini mulai berjualan sejak minggu (9/6/29) kemarin. Rencananya mereka akan menjual ketupatnya sampai Selasa (11/6/19) besok.

Budaya membuat ketupat di Tulungagung biasanya dilakukan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri, yang dikenal dengan "bodo kupat".

Ketupat biasanya menjadi hantaran kepada tetangga dan saudara pada bodo kupat. Ketupat yang dihantarkan dilengkapi dengan biasanya dilengkapi lauk dan sayur sebgai pelengkapnya. 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close