5 Pondok Pesantren Tertua di Jawa Timur, Salah Satunya Tempat Belajar KH Hasyim Asy'ari

Sabtu, 15-06-2019 - 14:44 WIB Tangkapan layar video unggahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Dokumen MalangTIMES) Tangkapan layar video unggahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES, JATIMES – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunggah video berisi rangkuman 5 pondok pesantren tertua di Jawa Timur. 

Pondok-pondok itu tersebar mulai di Malang, Sidoarjo, Pasuruan, Pamekasan dan Pacitan.

Melalui akun Instagram resminya, @khofifah.ip mantan Menteri Sosial RI itu berharap tidak ada lagi stigma negatif terhadap santri yang belajar di pondok pesantren. 

"Adakah di sini yang pernah merasa dipaksa orang tua dimasukkan ke pesantren karena nakal? Jangan salah, pola pendidikan di pesantren bakalan bikin kamu jadi orang hebat dan tahan banting. Kamu tidak hanya dibekali ilmu agama saja, tapi juga berbagai ilmu yang bikin kamu mandiri, kreatif, dan berdaya saing," tulis Khofifah. 

"So, sudah saatnya menepis stigma negatif tentang pondok pesantren dan menjadikannya salah satu opsi bagi generasi muda penerus bangsa untuk menuntut ilmu di jenjang lebih tinggi. Dan, Jawa Timur adalah gudangnya pesantren Indonesia. Ayo, ngacung yang lulusan pesantren," lanjutnya.

1. Pesantren Al-Hamdaniyah

Pesantren ini didirikan oleh KH Hamdani pada tahun 1787. Terletak di Desa Siwalan Panji, Buduran, Kabupaten Sidoarjo. 

Pondok ini memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan untuk para santrinya. 

Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya, serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton membuat asrama santri ini nampak seperti rumah joglo.

Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar, salah satunya yang pernah menjadi santri yakni KH Hasyim Asy'ari. 

2. Ponpes Sidogiri

Berdiri pada tahun 1718 dan didirikan oleh Sayyid Sulaiman keturunan Rasulullah. 

Awalnya Sidogiri adalah hutan yang berada di Pasuruan, Jawa Timur. 

Dibantu oleh santri sekaligus menantunya, yaitu Kiai Aminullah, babat alas dilakukan selama 40 hari. 

Karena saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang belum pernah terjamah manusia. 

3. Pondok Pesantren Miftahul Huda 

Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang didirikan oleh KH Hasan Munadi pada tahun 1768.

PPMH juga dikenal dengan nama Pondok Gading karena tempatnya berada di Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. 

KH Hasan Munadi wafat pada usia 125 tahun. Beliau mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. 

Beliau meninggalkan empat orang putra, yaitu KH Isma'il, KH Muhyini, KH Ma'sum dan Nyai Mujannah. 

Pada masa itu, Pondok Gading belum mengalami perkembangan yang signifikan. 

4. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar

Bermula dari sebuah langgar (musala) kecil yang didirikan oleh Kyai Itsbat Bin Ishaq sekitar tahun 1787. 

Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya. 

Nama Banyuanyar diambil dari bahasa Jawa yang berarti air baru. 

Hal itu didasarkan pada penemuan sumber mata air (sumur) yang cukup besar oleh Kyai Itsbat.

Sumber mata air itu tidak pernah surut sedikitpun. 

Bahkan sampai sekarang air tersebut masih dapat difungsikan sebagai air minum santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Banyuanyar. 

Di lokasi inilah Kyai Itsbat mengasuh para santrinya dengan penuh istiqomah dan sabar.

Sekalipun sarana dan fasilitas yang ada pada saat itu jauh dari kecukupan. 

Setelah wafat, Beliau meninggalkan amanah suci pada generasi penerusnya. 

Yaitu cita-cita luhur untuk mendirikan sebuah pondok pesantren yang representatif. 

5. Pondok Pesantren Tremas

Pondok Tremas didirikan oleh KH Abdul Manan pada 1830 setelah menyelesaikan masa belajarnya di Pondok Tegalsari, Ponorogo.

Awalnya pondok ini berada di daerah Semanten, atau sekitar 2 kilometer arah utara Kota Pacitan.

Karena pada waktu itu masih dalam taraf permulaan dan santrinya juga belum sebanyak periode sesudahnya, maka kitab-kitab yang dipakainya juga masih dalam tingkatan dasar.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : JatimTIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close