Dua Bocah Maling di SMPN 3 Ngunut ternyata Santri, Belajar dari Youtube Cara Buka Pintu Pakai Penjepit Kertas

Senin, 15-07-2019 - 19:00 WIB Kanit Reskrim Polsek Ngunut saat tunjukkan alat yang digunakan untuk membuka pintu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES Kanit Reskrim Polsek Ngunut saat tunjukkan alat yang digunakan untuk membuka pintu / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES – Dua pencuri yang ditangkap karena mencuri di SMPN 3 Ngunut Tulungagung ternyata berstatus Santri. 

Dari belajar melalui YouTube, dua pelaku memanfaatkan penjepit kertas untuk membuka kunci pintu sekolah yang selanjutnya masuk dan melancarkan aksi pencurian. 

"Mengaku sudah lima kali masuk ke sekolah, ditempat lain ada di warung kopi dekat sungai," kata Kanit Reskrim Polsek Ngunut Iptu Heri Purwanto, Senin (15/07) siang.

Purwanto mengungkapkan, kedua pelaku yang diamankan adalah San (16) tercatat sebagai warga desa Bacem Kecamatan Sutojayan Blitar dan Put (13) pelajar yang beralamat di desa Batu Agung Kecamatan Merbabu Mataram Kabupaten Lampung Selatan. 

"Kedua santri ini belajar di salah satu pondok pesantren di Ngunut dan masih usia sekolah," ungkap Purwanto.

Aksi yang dilakukan dua santri itu terjadi pada Kamis (11/07) lalu sekitar jam 22.30 Wib saat Winarto melaporkan jika penjaga malam di SMPN 3 Ngunut yang mengatakan jika temannya yang bernama Wahono sewaktu akan mengambil bantal untuk tidur yang berada di ruangan TU terkejut melihat ada 2 (dua) orang berada di atas almari sedang bersembunyi.

"Saksi ini melihat dua orang di atas lemari ruang tata usaha untuk bersembunyi, padahal bantal yang akan diambil penjaga malam itu berada diatas lemari itu," jelas Purwanto.

Kontan saja, Wahono memanggil Winarto untuk menangkap dua orang tersebut yang diduga sebagai pencuri dan membawa keduanya ke Polsek Ngunut. 

"Keduanya langsung mengamankan kedua orang yang ditemukan di atas lemari itu dan setelah ditanya mengaku akan mengambil uang, Laptob ataupun barang-barang lainya," ungkap Purwanto.

Dari olah TKP yang dilakukan penyidik, San dan Put mengaku sudah pernah mengambil snack sebanyak 4 kali dari SMPN 3 Ngunut dengan cara membuka kaca jendela menggunakan alat yang sangat sederhana yaitu kawat kecil bekas klip penjepit kertas atau buku. 

"Setelah masuk ke dalam ruang TU, mereka menemukan besi yang digunakan untuk mencongkel almari," tandas Purwanto

Hasil dari aksinya, kedua pelaku menggunakannya untuk membeli jajan dan juga handphone.

Karena lihai dalam beraksi, polisi mencurigai aksi pencurian yang terjadi sebelumnya justru dilakukan oleh orang dalam.

"Karena beberapa kali latihan dari melihat di youtube itu, dalam aksinya tidak ada bekas congkelan dan kerusakan pada pintu sekolah," paparnya

Atas perbuatannya, kedua santri yang masih dibawah umur itu mendapatkan penyelesaian hukum diversi atau penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, sesuai dalam Pasal 1 angka 7 UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. 

Proses mediasi dilaksanakan polisi dengan mengundang seluruh pihak diantaranya pihak sekolah, orang tua dua santri, dinas sosial, dinas pendidikan dan dinas lain yang berhubungan dengan masalah anak.

"Kita Serahkan pada orang tua masing-masing untuk dilakukan pembinaan," pungkasnya.

Pewarta : Anang Basso
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close