Buntut Upaya Pungli Nikah di KUA, Modin Membantah, Kemenag Lakukan Investigasi

Rabu, 07-08-2019 - 18:56 WIB Suyut, Modin desa/Kecamatan Karangrejo / Foto : Profil WA / Tulungagung TIMES Suyut, Modin desa/Kecamatan Karangrejo / Foto : Profil WA / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES – Tak mau disalahkan, Modin yang juga mengaku sebagai Pembantu Pegawai Pencatatan Nikah (P3N) di KUA Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung, angkat bicara. Suyut Modin Desa Karangrejo, yang mengaku aktif sejak bulan Juli tahun 2018 lalu tidak pernah memungut biaya nikah termasuk pada Aris Alfian (28) dan calon istrinya Anak Agung Ayu Widya Srikandi (23) warga Bali yang mengaku mendapat perlakuan upaya pungli.

"Waktu tahun 2018, calon istri Aris berteman punya kenalan dengan warga kami. Dia punya masalah di Bali dan akhirnya bikin surat pindah dan ikut warga kami serta masuk data Kartu Keluarga (KK) warga kami. Yang namanya Aris itu bohong, waktu itu belum proses dan saya tidak pernah meminta atau menerima uang, saat itu proses saja belum," bantah Suyut.

Dirinya lantas membuka permasalahan yang terjadi pada Aris, menurut dia, Aris seharusnya ke pengadilan agama dulu sesuai rekomendasi dari hasil surat pernikahan siri yang disampaikan padanya. "Kendalanya masih banyak, karena dia punya dokumen tentang pernikahan siri dan ada dari pelaksana nikah siri bahwa harus dilakukan rekomendasi di PA dan dicatatkan di KUA, putusan pengadilan dan berbunyi di atas materai," jelas Suyut.

Atas bantuannya, Putusan itu menurut Suyut sebelumnya tidak perlu dilaksanakan Aris. Namun karena Aris membuat keributan dengan memberitakan masalah yang dihadapi dalam proses pernikahannya, proses rapak (proses penegasan atau penyuluhan sebelum nikah) yang akan dilaksanakan pada Kamis (08/08) besok terancam batal. "Saya tidak tahu bagaimana keputusan atasan saya di KUA, terserah pak naib apakah besok jadi rapak atau tidak," paparnya.

Apakah ada warga lain yang dipungut biaya saat mengajukan pernikahan saat jam kerja di KUA Karangrejo, Suyut dengan nada datar dan gelagapan juga membantah. "Bukan narik, lihat-lihat, nikahnya di mana. Tidak begitu, masih ada yang bayar tapi nikahnya tidak di kantor," katanya dengan nada gugup.

Selain itu, Suyut masih tetap kukuh jika tidak pernah berupaya menarik uang nikah (pungli) pada Aris dan bahkan pada warga lain yang melaksanakan pernikahan. "Saya jadi pencatat masih baru, saat kasus ini masuk kerja saya masih di handle dengan petugas yang lama kok, tapi saya tidak tau dengan petugas yang lama."

Menurutnya, karena ulah Aris dirinya kini dipanggil pihak KUA karena pihak kepolisian melakukan klarifikasi terhadap permasalahan tersebut.

Sementara itu, Aris Alfian membenarkan jika pada Kamis (08/08) besok jam 07.00 wib akan dilaksanakan proses rapak di KUA Kecamatan Karangrejo. Dirinya heran jika rapak yang akan digelar akan batal karena rekomendasi dari surat nikah siri yang dimiliki.

"Misalkan yang dipermasalkan masalah nikah sirinya dan harus ada keputusan pengadilan tentang isbat dan lainnya, Kan nikah siri itu tidak diakui negara, isbat itu sebagai sarana pengakuan. Kalaupun mau nikah secara agama tidak apa apa, kan begitu," tegas Aris

Tidak mau menanggapi bantahan Suyut, Aris justru mengatakan jika bapak dari calon istrinya telah siap menjadi wali pernikahan yang akan dilaksanakan.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Kemenag Kabupaten Tulungagung Supriyono menegaskan akan memanggil seluruh petugas pernikahan dan kepala KUA se-Kabupaten Tulungagung. "Kita sudah perintahkan laporan kronologi dari KUA Karangrejo, kita juga lakukan investigasi terkait masalah ini," tandasnya.

Jika memang ditemukan pelanggaran dan bukti adanya dugaan pungli, Kemenag Kabupaten Tulungagung tidak segan untuk memberikan sanksi pada pegawainya. "Kita akan berikan sanksi sesuai dengan pelanggaran dan Undang-Undang yang ada," tambahnya.

Supriyono yang sebenarnya masih menjabat sebagai Kasi Pontren itu tak membantah jika pelanggaran yang dilakukan fatal, bisa berujung pada sanksi terberat yakni pemecatan.

Kasus ini mencuat lantaran Aris Alfian telah mengajukan pernikahan dengan istrinya Anak Agung Ayu Widya Srikandi yang merupakan mualaf, merasa dihambat. Setahun mengajukan, dirinya kesal atas upaya pungli dan kesulitan persyaratan lain sehingga nasib pernikahannya di KUA Karangrejo terkatung-katung tak segera kelar. 

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close