Apresiasi Kinerja Polisi, Pawahikorta Luruskan Persepsi Berita Miring Trafficking, Bukan Kafe Tulungagung

Kamis, 08-08-2019 - 17:21 WIB Pengurus Pawahikorta Tulungagung (foto : Istimewa / TulungagungTIMES) Pengurus Pawahikorta Tulungagung (foto : Istimewa / TulungagungTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES – Kasus trafficking yang melibatkan anak di bawah umur untuk bekerja di tempat hiburan serta menjadi pekerja seks komersial menjadi perhatian banyak pihak. Persatuan Warung Hiburan Dan Karaoke Tulungagung (Pawahikorta) memberikan atensi dan apresiasi pada kasus yang menggemparkan masyarakat itu.

"Kita mengapresiasi kinerja kepolisian atas terungkapnya kasus itu, tidak akan kita berikan toleransi pada upaya perdagangan anak untuk prostitusi meski kami merupakan organisasi yang menaungi pengusaha dan pekerja warung kopi dan karaoke," kata Agung Purwanto, Kamis (08/08) siang.

Pawahikorta mengingatkan pada pengusaha warung hiburan sekaligus yang terlibat dalam bisnis hiburan agar lebih selektif dan tidak mencoba-coba mempekerjakan anak di bawah umur. 

"Sudah sering kita sosialisasikan, namun ternyata masih ada yang berusaha melakukan praktik yang melanggar hukum itu," terang Agung.

Namun di satu pihak, Pawahikorta menyayangkan pemberitaan di media sosial terutama di Facebook yang mayoritas persepsi yang berkembang jika adanya prostitusi itu berada di Kabupaten Tulungagung. 

"Ini yang harus kita luruskan, pengguna sosial media menganggap praktik prostitusi itu di Kabupaten Tulungagung, di warung kopi yang berada di Tulungagung, itu tidak benar dan harus kita luruskan. Yang benar, prostitusinya di luar Tulungagung dan penangkapan tersangka dan korbannya di Tulungagung, Ini harus jelas," tandas Agung.

Untuk itu, Pawahikorta sengaja melakukan konsolidasi bersama para anggota yang merupakan pengusaha warung hiburan agar untuk mengeluarkan sikap atas pemberitaan miring yang terjadi selama ini.

"Sebagai pemilik warung isu miring ini jelas merugikan kami, dampak yang timbul buruk bagi usaha kami," ujar Supani, pelaku usaha yang juga sekretaris di Pawahikorta.

Menurut Supani, warung hiburan bukan hanya sebagai usaha bisnis belaka, namun di warung hiburan ribuan orang mencari penghidupan dengan bekerja didalamnya

"Sekaligus warung hiburan dan karaoke sebagai pengembangan pariwisata di Tulungagung dan itu perlu kita jaga nama serta citranya," terang Supani.

Sebagai organisasi yang menyatukan para pelaku usaha hiburan, Pawahikorta juga selalu bekerja sama dengan pihak terkait apabila ada persoalan yang dihadapi termasuk isu adanya prostitusi yang hangat dibicarakan di tengah masyarakat sekarang ini.

"Kita merupakan organisasi yang di dalamnya terdiri dari pengusaha dan pekerja di warung hiburan, jika ada bisnis yang praktik prostitusi, kita dukung untuk diungkap," paparnya

Kasus yang menjadi perhatian Pawahikorta adalah keberhasilan pengungkapan kasus trafficking pada anak yang dieksploitasi di warung kopi di wilayah pantai Prigi Trenggalek. Kasus perdagangan manusia ini ditangani Polres Tulungagung karena perekrutan korban terjadi di kota tersebut. Sedangkan eksploitasi korban sebagai pelayan kafe dan PSK terjadi di Trenggalek.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Hendro Tri Wahyono mengungkapkan, korban NA mengaku diminta SL pengelola warung kopi Talenta di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek untuk melayani dan meracikan kopi untuk para pelanggannya. Tidak hanya itu, NA juga berkewajiban menemani para tamu untuk minum kopi maupun mengkonsumsi minuman keras.

Bahkan dalam sehari, NA pernah melayani seks lebih dari sepuluh lelaki. Dalam sekali transaksi ia mendapat upah Rp 200 ribu. Dari jumlah itu Rp 50 ribu di antaranya disetorkan kepada pemilik warung. Proses transaksi seksual dilakukan di salah satu kamar yang disediakan di bagian belakang warung. 

Karena kelelahan akibat eksploitasi seksual itu secara sendirian, akhirnya NA disuruh oleh SL untuk mencari karyawan baru itu dan berhasil mendapatkan dua anak.

Polisi telah menetapkan dua tersangka yaitu SL (35) beralamat di Desa Bungkoro Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek yang merupakan pemilik Cafe Talenta di pantai Prigi dan SU (30)  warga asli Desa Sumberagung di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri.

Atas perbuatan dua orang yang berstatus tersangka yakni SL dan SU, polisi menerapkan pasal 2 ayat  (1) RUU RI nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Jika yang menjadi korban anak atau masih di bawah umur, sesuai pasal 2,3 dan 4 maka hukuman tersangka ditambah menjadi sepertiga dari hukuman yang diterimanya.

Pewarta : Anang Basso
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close