Tak Manusiawi, Bos Kafe Triangle Palu Jari Tangan Karyawan hingga Patah

Jum'at, 09-08-2019 - 20:50 WIB Korban  penganiayaan saat dirawat di rumah sakit.  (Anggara Sudiongko/MalangTIMES) Korban penganiayaan saat dirawat di rumah sakit. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES, MALANG – Apa yang dilakukanJhonson,  bos Cafe and Beer House Triangle  Jalan Soekarno-Hatta 72, Lowokwaru, Kota Malang,  tak manusiawi. Ia tega memukul jari tangan salah satu karyawannya yang bernama Novi Fransiska Aditama (26), warga asli Donomulyo, Kabupaten Malang, dengan palu pemukul es batu. Akibatnya, tiga tulang jari tangan Novi patah.

Penganiayaan tersebut terjadi saat closing kafe sekitar pukul 03.00 WIB (2/8/2019). Saat itu, Novi dituduh melakukan penggelapan minuman oleh pelaku. Korban dan dua orang temannya didudukkan pelaku di depan sebuah meja.

Jhonson saat itu mendesak Novi dan temannya untuk mengakui perbuatan penggelapan atau menjual minuman tanpa izin yang dituduhkan kepada korban.  Namun karena sama sekali tidak merasa melakukan perbuatan apa pun, Novi tidak menjelaskan apa pun kepada pelaku.

Dari situ, Jhonson marah dan tetap ngotot agar Novi mengakui kecurangan yang pelaku tuduhkan. Kemudian pelaku menyuruh Novi meletakkan tangannya di atas meja. Jhonson langsung mengambil palu pemecah es yang sudah disiapkan di balik baju pelaku dan dipukulkan ke jari tangan Novi.

Seketika itu, Novi mengerang kesakitan akibat tangannya  dipukul palu sekitar lima kali secara keras. Dia mengalami luka dan patah tulang.

"Ada dua teman saya, H sama R ,  yang ikut dimarahi. Namun yang dipukul palu cuma saya. Saya nggak melawan karena saya memang nggak merasa salah. Kalau melawan pun, saya juga paham risiko setelah itu apa,"  ungkapnya ketika ditemui di Rumah Sakit Lavallete.

Setelah pemukulan, Novi ditolong temannya dan dibawa ke rumah sakit yang dekat dengan lokasi kafe. Namun  rumah sakit tersebut tak bisa menangani luka yang diderita korban.

Dari situ, Novi selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Lavallete. Di sana korban mendapatkan perawatan dengan dilakukan operasi pada jari tangannya yang patah dan retak.

Saat korban tengah dirawat, pelaku Jhonson belum ada iktikad baik untuk meminta maaf kepada korban. Pelaku tak nampak menjenguk korban  di rumah sakit. Hanya perwakilan manajemen Triangle, yang diketahui bernama Medi, menjenguk dan mengurus administrasi pengobatan korban.

Malah,  pelaku Jhonson menyuruh orangnya ke rumah sakit dengan membawa surat pernyataan bahwa kejadian tersebut bukanlah akibat penganiayaan, melainkan  kecelakaan kerja.

Kemudian, saat Novi melakukan kontrol mengenai kondisi luka jari tangannya pada Rabu (7/8/2019), bos Triangle yang bernama Tomi sempat datang ke rumah sakit untuk menjenguk korban sekaligus bermediasi. Namun, pihak keluarga Novi dan pihak Triangle menemui jalan buntu dan tidak ada kesepakatan.

Pihak Triangle hanya memberikan kompensasi sekitar Rp 5 juta. Dan hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan keluarga mengingat korban mengalami luka cukup serius pada jari dan tak bisa kembali 100 persen normal.

Karena deadlock dan tidak ada titik temu saat mediasi, akhirnya keluarga korban berniat menyelesaikan kasus tersebut lewat jalur hukum. Dan ketika keluarga korban sudah geram dan berniat melangkah ke jalur hukum, pelaku Jhonson akhirnya datang ke rumah sakit. Dia meminta maaf serta mengakui bahwa perbuatan yang ia lakukan karena hilaf.

"Pelaku beralasan sedang ada masalah pribadi. Tapi apa yang dilakukan pelaku ini kan sudah kelewat batas. Kami bukan soal nominal, tapi perbuatan pelaku ini," ujar Mohammad Muhtarom, salah satu keluarga Novi.

Menurut Muhtarom, saat datang ke rumah sakit, pelaku tampak dengan santai seperti tak melakukan apa-apa. Pelaku seakan tak pernah merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat.

"Pelaku tetap saja menuduh. Padahal adik saya memang tak melakukan perbuatan apa pun. Waktu dalam keterangan di polres saat laporan, tetap tidak merasa melakukan perbuatan apa pun," ucap Muhtarom melalui sambungan telfon

L, Ibu korban yang beberapa waktu lalu ditemui di rumah sakit mengaku dirinya merasa sangat sedih melihat kondisi anaknya. Bahkan dari kejadian tersebut, korban setiap bangun tidur, seperti merasa ketakutan karena trauma dengan apa yang dialami.

"Kaget sekali saya pas dikabari katanya kecelakaan. Apalagi dia ini juga tulang punggung keluarga. Kami orang nggak punya, hanya seorang petani," keluhnya.

 

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close