Tolak Makam di Belakang Masjid, Warga Geruduk Kantor Desa

Senin, 12-08-2019 - 12:11 WIB Situasi di balai desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Ratusan warga tolak makam di Pondok Pesantren Gus Maksum. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES Situasi di balai desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Ratusan warga tolak makam di Pondok Pesantren Gus Maksum. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES –  Ratusan warga Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, menggeruduk balai desa, Senin (12/08) pagi. Warga menuntut agar makam seseorang yang diketahui bernama Suryat Suyono di belakang Masjid Watugedheg milik Gus Maksum untuk dibongkar.

"Kamibminta hari ini juga dibongkar. Makam itu tidak punya izin dan warga menolak," kata salah seorang warga di depan muspika dan masyarakat yang hadir.

Warga yang dikomnado  Jilan dan Dwihandono ini menolak makam yang disebut-sebut sebagai ayah angkat Imam Maksum (Gus Maksum) yang merupakan warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.  "Pemakaman itu tidak disetujui karena warga merasa tempat pemakaman tersebut tidak umum dan tidak  mengikuti adat istiadat di lingkungan Dusun Pelem saat ini," ungkap perwakilan warga.

Selain itu, warga mengaku resah karena keberadaan makam menimbulkan berbagai pertanyaan. Sebab, warga sekitar tidak pernah tahu siapa yang meninggal dunia.

"Penyebabnya apa? Karena selama ini Gus Maksum tidak pernah sosialisasi dengan warga sekitar dan warga sudah mengetahui bahwa tempat lubang  pemakaman  sudah digali," terangnya.

Warga juga telah keliling dari pintu ke pintu rumah warga masyarakat untuk minta dukungan tanda tangan penolakan. Mereka juga minta agar Gus Maksum hadir pada saat mediasi maupun musyawarah di balai desa.

"Ini wasiat ayah saya. Saya tidak mau memindah makam karena itu orang tua saya. Jika mau menyelesaikan, ya kita ke jalur hukum," kata Gus Maksum yang akhirnya dihadirkan oleh pihak Polsek Campurdarat setelah disesak warga.

Karena tak menemui solusi, MUI Kecamatan Campurdarat meminta bicara dengan Gus Maksum agar dapat memahami kemauan warga.

Hingga berita ini diturunkan, mediasi masih berlangsung. Ratusan warga masih menunggu di halaman balai desa untuk menunggu keputusan musyawarah terbatas yang dilakukan pihak MUI, muspika, dan pondok pesantren. 

 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close