Dugaan Pemerkosaan Pekerja Cafe di Bawah Umur, Pawahikorta Serahkan pada Hukum

Senin, 09-09-2019 - 19:01 WIB Ketua Pawahikorta, Agung Purwanto (berpeci) (foto : Joko Pramono/Jatim Times) Ketua Pawahikorta, Agung Purwanto (berpeci) (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

TULUNGAGUNGTIMES –  Adanya pekerja tempat karaoke dibawah umur yang mengaku diperkosa oleh pelangganya, PAWAHIKORTA segera menyikapi hal itu. Melalui ketuanya Agung Purwanto mengaku prihatin dengan hal itu. Padahal menurutnya pihaknya sudah sering kali mengadakan sosialisasi terkait hal itu pada pengusaha warung kopi dan karaoke di Tulungagung.

“Pawahikorta sendiri prihatin dengan hal itu, apalagi sudah sering kita sosialisasikan hal itu,” ujar Agung.

Untuk anggotanya yang melanggar, pihaknya tak segan untuk memberikan sanksi. Namun jika sudah measuk pada ranah hokum, pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada proses hokum yang berlaku.

“Kita tidak bertanggung jawab, kita serahkan pada hukum yang berlaku,”terangnya.

Saat disinggung adanya pendampingan pada anggotanya yang tersangkut masalh hokum, Agung katakan bisa dilakukan jika sudah dibutuhkan.

Pihaknya menolak jika organisasi yang dipimpinya tidak bisa mengawasi angotanya sehingga timbul kasus seperti ini. Dirinya beralasan tidak bisa melakukan penindakan kepada anggotanya yang melanggar hukum.

“Karena Pawahikorta disini tidak mempunyai kewenangan untuk menegakan, yang menegakan adalah dinas terkait,”kata Agung.

Agung kembali menegaskan jika sudah seringkali menegur maupun himbauan pada karaoke yang melanggar aturan.

Sebelumnya, seorang pekerja karaoke yang diketahui masih dibawah umur, Melati (16) mengaku diperkosa oleh pelangganya (Uceng) yang merupakan perangkat desa di Kecamatan Sumbergempol.

Hal itu diketahui saat Melati diamankan oleh satpol PP saat memeriksa café milik Markini (65) warga Dusun  Kedungjalin, Desa Junjung, Sumbergempol.

Melati diamankan lantaran adanya aduan masyarakat jika ada salah satu tempat karaoke yang memperkerjakan anak –anak.

Saat diamankan Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room.

Melati berasal dari Desa Wajak, Kecamatan Turen, Malang.

Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temanya 'Tari' yang sudah lebih dulu bekerja di cafe ini.

Dicafe milik Markini (65) ini Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu.

Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota.

Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar 1 juta rupiah. Belum lagi tios yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room.

Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap.

Mirisnya saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu salah satu pelangganya.

Melati dengan gamblang menceritakan waktu dan tempat dirinyab dinodai oleh Uceng.

Dirinya dipaksa berhubungan badan oleh Uceng pada hari Minggu tanggal 11 Agustus 2019 sekitar pukul 1 malam di dalam kamarnya.

"Pernah sekali dipaksa untuk berhubungan badan (diperkosa) oleh salah satu pelangganya," kata Kasatpol PP Tulugagung melalui Kasi Informasi dan Publikasi, Artista Nindya Putra.

Untuk menguatkan pebngakuan Melati, Pihaknya meminta Melati membuat surat pernyataan bermaterai, jika pernah di paksa berhubungan badan oleh Uceng.

Sementara itu pemilik warung kopi dan karaoke, Markini saat disinggung ijin usaha karaokenya, tidak bisa menunjukanya. Dokumen yang dia punya hanyalah sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk lagu-lagu yang diputar di café miliknya. Itupun dia harus merogoh kocek sebesar 800 ribu rupiah.

“Punyanya hanya ini (sertifikat) bayarnya 800 ribu,” ujar Markini.

 

 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Heryanto
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close