Benarkah Pemerkosa Purel di bawah Umur Adalah Perangkat Desa? Ini Bocorannya..

Senin, 09-09-2019 - 20:53 WIB Melati saat dibawa ke kantor Pol PP Tulungagung / Foto : Joko Pramono / Tulungagung TIMES Melati saat dibawa ke kantor Pol PP Tulungagung / Foto : Joko Pramono / Tulungagung TIMES

TULUNGAGUNGTIMES – Pengakuan Melati (16) warga Kecamatan Turen Kabupaten Malang yang bekerja di Cafe Idaman Dusun Kedungjalin Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung, bahwa dirinya pernah mendapatkan perlakuan pencabulan paksa (perkosaan) sebenarnya pernah disampaikan kepada AP, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).  

Saat dikonfirmasi, AP membenarkan pernah mendapat keluhan dari Melati dan bahkan pernah berusaha mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Tulungagung untuk membuat laporan. Namun, laporan itu tidak bisa diproses karena saat itu pihaknya tidak bisa memenuhi syarat formal yang diminta penyidik. "Saya sudah sampaikan bahwa ada kejadian perkosaan pada anak di bawah umur, namun kita kesulitan mendatangkan orang tua korban sehingga masalah itu tidak bisa diproses," kata AP.

Bukan hanya ke Polres, AP juga meminta bantuan pihak lain agar masalah pelecehan pada anak bisa ditangani. Namun, upaya yang dilakukan buntu sehingga akhirnya Melati terkena razia yang dilakukan satpol PP Tulungagung, Senin (09/09) siang. "Jika telah dirazia dan diketahui bahwa korban merupakan anak di bawah umur dan mendapatkan perlakuan seperti itu maka sekarang terserah bagaimana, mau diproses atau tidak, saya tidak bisa komentar yang lebih," paparnya.

Lebih jauh, AP juga mengetahui siapa pelaku perkosaan yang dialami korban Melati tersebut. "Bahkan pengakuan korban, saat kejadian dirinya bersama temannya yang lain yang sudah dewasa dan dipaksa oleh seorang perangkat desa untuk melayani nafsunya," ungkapnya.

AP memang tidak mau mengungkap siapa perangkat desa yang dimaksud, namun dirinya yakin jika kasus ini berproses maka akan sagera dapat diungkap pelakunya.

Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar melalui Kanit PPA, Ipda Retno Pujiarsih  mengatakan bahwa tugas kepolisian menerima setiap laporan yang masuk. Namun, untuk melanjutkan proses, pelapor harus dapat menunjukkan identitas dengan jelas. "Jika laporan kan minimal ada KTP, ijazah atau identitas diri yang bisa menunjukkan bahwa korban ini masih anak atau sudah dewasa. Jika anak, ada Undang-Undang perlindungan anak dan jika sudah dewasa masuknya ke KUHP," terang Retno.

Selain itu, penyidik juga harus tahu siapa orang tua jika memang dia masih berusia anak. "Darimana kita tahu bahwa dia anak? Semua juga harus jelas, Jangan hanya laporan tapi ditinggal, kemudian diminta jadi saksi tidak mau," lanjutnya.

Saat diamankan, Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room. Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temannya 'Tari' yang sudah bekerja di cafe ini. Di cafe milik Markini (65) ini Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu. 

Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota. Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar Rp 1 juta rupiah. Belum lagi tips yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room.

Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap. Mirisnya saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu salah satu pelanggannya. "Pernah sekali dipaksa untuk berhubungan badan (diperkosa) oleh salah satu pelanggannya," tandas Putra.

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close